Hari ini tepat setahun hari ulang tahunku yang kedua. Setahun pas setelah dokter memutuskan untuk mengambil bagian keperempuananku. Vonis dokter empat bulan sebelumnya mengatakan aku mengalami prolapse. Vonis yang membuatku terhempas ke titik nadir di usiaku yang hampir empat puluh ini. Aku mencari second opinion dari dokter yang lain. Bahkan dengan salah seorang profesor di negara tetangga. Prognosis yang diberikan sama. Prolapse. Aku mencari rujukan melalui dunia maya, mencari tahu apakah memang satu satunya jalan adalah dengan mengambil rahim dan tuba falopii. Aku menyerah ketika aku harus menghadapi kenyataan setelah dokter keempat mengatakan hal yang sama. Ada seorang dokter yang menganjurkan penggunaan pessary ring, dengan konsekuensi aku tidak bisa mengangkat beban berat lagi. Meskipun aku masih ada kemungkinan untuk hamil dan melahirkan. Pilihanku ada dua. Lengkap, utuh tapi berhenti bekerja sebagai chef. Atau membuang bagian rusak diriku dengan tetap menjalani profesi sebagai juru masak kondang.
Pilihan terbaikku adalah menjadi setengah perempuan. Karena aku tidak bisa meninggalkan usaha yang sudah kurintis bertahun lamanya. Aku cuti dua bulan dari dunia kuliner. Menyerahkan manajemen ke asistenku. Sebulan kugunakan untuk menyembuhkan luka fisik. Dan bulan kedua, total untuk luka batinku. Dokter yang kupilih untuk merawatku adalah dokter Bian. Duda beranak tiga. Temanku SMA dulu. BFF istilah modernnya, tapi teman sekelas menjuluki kami kembar dampit. Dialah yang pertama tahu kondisiku ketika aku sering mengeluh sakit pada bagian perut bawahku. Bian tahu kondisiku karena profesiku mengharuskan aku untuk mengangkat benda berat. Bukan karena sebab yang lain. Pertama ada sedikit rasa malu ketika aku harus naik meja periksa. Iya lah, sahabat sejak kuda gigit rambutan, sekarang mau nengokin private part?
Hari tanggal operasiku kujadikan hari ulang tahun keduaku. Hari ini, hari aku dan Bian sepakat untuk menghabiskannya bersama. Persahabatanku dengan Bian membawa kita selalu bersama. Susah senang selalu berdua. Ketika dia kehilangan Rosa tiga tahun lalu, dia menangis di pundakku. Dan ketika aku harus merelakan kedua orang tuaku pergi bersama menjemput maut akibat tertabrak truk tanki bahan bakar. Bian juga yang menopangku ketika aku menjalani operasi. Merawatku sampai sembuh dari luka fisik sampai aku kuat menerima keadaanku. Aku kenal baik dengan Rosa, bahkan kita sering berlibur bersama. Hari liburku sering kuisi dengan memasakkan makanan untuk keluarga Bian. Anak anak mereka yang masih kecil kecil membahasakan diriku sebagai bunda. Sementara Rosa adalah Ibu.
"Jadilah bunda untuk mereka seutuhnya, Lis." Bian pernah menyatakan kepadaku satu saat.
"Dan membiarkan Rosa di surga menangis, melihat kita menikah? Jawabku.
"Rosa pasti me ngerti, apa lagi pesan terakhirnya memintamu untuk menjaga kami." Sahutnya.
"Menjaga bukan berarti kita harus menikah khan." Pungkasku.
Agnes, Eliza dan si bungsu Frans sudah menunggu kedatanganku dengan manisnya. Rencananya berlima kami akan pergi ke tempat pemancingan ikan di daerah Tabanan. Sekalian ke Tanah Lot, sorenya. Yah hari libur gini paling enak memang mancing. Dapat gurami atau lele, tinggal minta ke dapur untuk dimasak buat makan siang. Kolam pancing Tedjo tempat langganan kami terkenal bersih dan rupa rupa sambal yang ditawarkan. Apalagi bu Tedjo sering membuat penganan kecil khas Jawa. Ada gathot, grendhul, putu mayang, serabi kuah, bahkan cenil dan horog horog pun sering ada. Belum lagi menjes, mendoan atau tahu isi. Biasanya seorang dipatok harga dua ribu untuk makanan ringan, plus es teh tawar. Lumayan, murah meriah. Dua jam kolam pancing juga sama, dua ribu. Kalo dapat gurami, sekilo lima belas ribu. Kalo lele sepuluh ribu. Sudah termasuk nasi putih, lalapan, dua jenis sambal, dan tumis sayuran. Kalo minumnya es teh tawar, gratis. Segentong juga boleh. Tapi pake bonus sambitan sendal kalo segentong. Ramainya celotehan mereka bertiga membuatku meringis menahan tawa. Si sulung Agnes tiba tiba bersuara keras.
"Bunda kenapa nggak nikah sama Ayah aja?"
"Iya Bun, biar kita bisa punya ibu lagi." Tambah si tengah Eliza. Frans tahu tahu sudah pindah ke pangkuanku. Dan memelukku erat.
"Frans mau Bunda." Katanya lirih. Tiga anak berumur empat sampai delapan tahun itu memandangku.
Hari itu aku menangis. Apakah mereka tiga malaikat kecil yang dikirim Tuhan karena Tuhan sudah mengambil rahimku? Haruskah aku mengambil langkah untuk menerima pinangan mereka. Setelah ayah mereka gagal memintaku untuk menjadi istrinya. Jujur, aku takut. Takut hatiku mengkhianati Rosa. Merebut Bian dan anak anak darinya. Aku juga takut menjadikan Bian sebagai pelarianku. Karena mana ada laki laki lain yang mau menerima perempuan setengah utuh seperti aku. Doa Rosario dan Novena Tiga Salam Maria tidak juga mampu menenangkan hatiku yang berkecamuk. Akhirnya aku pergi ke Romo Yoseph. Pembimbing rohani sekaligus kepala parokiku. Kutumpahkan semua kisahku kepadanya.
"Lisa saya hanya bisa menyarankan. Bukan memutuskan. Bukalah hatimu, sanggupkah dirimu menerima tanggung jawab sebagai ibu sambung. Sanggupkah dirimu menerima Bian bukan sebagai sahabat, tapi sebagai suami." Jawabnya sabar.
"Rosa?" Tanyaku.
"Rosa sudah di surga. Tidak ada kaitan dengan kalian." Jawabnya lugas.
Malam itu aku menelpon ibu Rosa. Meminta beliau untuk menjawab tanya dalam hatiku.
"Ibu, ini Lisa. Sahabat Bian dan Rosa di Denpasar."
"Bunda Lisa?" Tanyanya.
"Iya ibu. Maaf kalau mengganggu, tapi ada yang mau saya tanyakan." Jawabku. Aku tidak kuat menahan tangis.
"Lisa, ibu tahu kenapa Lisa sampai menelpon ibu. Soal lamaran Bian dan anak anak khan? Tanyanya lagi. Aku menumpahkan airmataku, banyak.
"Ibu tahu dari Rosa tentang dirimu. Tentang dekatnya dirimu, Rosa, dan juga Bian. Ibu juga tahu, kalau ayah dan ibumu sudah meninggal." Katanya lagi. Kenapa menyangkut orangtuaku menimbulkan setitik tanya. "Maukah kau menganggap ibu sebagai ibumu?" Tanyanya lagi.
"Ibu." Aku memanggilnya lirih. Malam itu aku menemukan seorang ibu. Bukan pengganti, tapi ibu sambung. Menyambung cinta seorang anak kepada ibu, dan ibu kepada anak. Dan dari situ, aku tahu setiap tanya dalam hatiku telah menemukan jawabannya.
Epilog
Di depan altar aku dan Bian saling mengucap janji pernikahan kami. Saling menerimakan sakramen perkawinan. Dalam hati, aku juga mengucap janji pribadiku. Kepada anak anak. Bahwa aku akan menjadi bunda mereka. Menyambung cinta seorang ibu kepada anak. Di depan patung Bunda Maria, aku berlutut. Mendaraskan doa pujian sekaligus memohon pertolongan agar aku bisa menjadi seorang ibu seutuhnya bagi Agnes, Eliza dan Frans. Sebentuk tangan tersodor di depanku, menawarkan cinta dan kehangatan. Tangan Bian.
"Jadilah bunda untuk mereka seutuhnya, Lis." Bian pernah menyatakan kepadaku satu saat.
"Dan membiarkan Rosa di surga menangis, melihat kita menikah? Jawabku.
"Rosa pasti me ngerti, apa lagi pesan terakhirnya memintamu untuk menjaga kami." Sahutnya.
"Menjaga bukan berarti kita harus menikah khan." Pungkasku.
Agnes, Eliza dan si bungsu Frans sudah menunggu kedatanganku dengan manisnya. Rencananya berlima kami akan pergi ke tempat pemancingan ikan di daerah Tabanan. Sekalian ke Tanah Lot, sorenya. Yah hari libur gini paling enak memang mancing. Dapat gurami atau lele, tinggal minta ke dapur untuk dimasak buat makan siang. Kolam pancing Tedjo tempat langganan kami terkenal bersih dan rupa rupa sambal yang ditawarkan. Apalagi bu Tedjo sering membuat penganan kecil khas Jawa. Ada gathot, grendhul, putu mayang, serabi kuah, bahkan cenil dan horog horog pun sering ada. Belum lagi menjes, mendoan atau tahu isi. Biasanya seorang dipatok harga dua ribu untuk makanan ringan, plus es teh tawar. Lumayan, murah meriah. Dua jam kolam pancing juga sama, dua ribu. Kalo dapat gurami, sekilo lima belas ribu. Kalo lele sepuluh ribu. Sudah termasuk nasi putih, lalapan, dua jenis sambal, dan tumis sayuran. Kalo minumnya es teh tawar, gratis. Segentong juga boleh. Tapi pake bonus sambitan sendal kalo segentong. Ramainya celotehan mereka bertiga membuatku meringis menahan tawa. Si sulung Agnes tiba tiba bersuara keras.
"Bunda kenapa nggak nikah sama Ayah aja?"
"Iya Bun, biar kita bisa punya ibu lagi." Tambah si tengah Eliza. Frans tahu tahu sudah pindah ke pangkuanku. Dan memelukku erat.
"Frans mau Bunda." Katanya lirih. Tiga anak berumur empat sampai delapan tahun itu memandangku.
Hari itu aku menangis. Apakah mereka tiga malaikat kecil yang dikirim Tuhan karena Tuhan sudah mengambil rahimku? Haruskah aku mengambil langkah untuk menerima pinangan mereka. Setelah ayah mereka gagal memintaku untuk menjadi istrinya. Jujur, aku takut. Takut hatiku mengkhianati Rosa. Merebut Bian dan anak anak darinya. Aku juga takut menjadikan Bian sebagai pelarianku. Karena mana ada laki laki lain yang mau menerima perempuan setengah utuh seperti aku. Doa Rosario dan Novena Tiga Salam Maria tidak juga mampu menenangkan hatiku yang berkecamuk. Akhirnya aku pergi ke Romo Yoseph. Pembimbing rohani sekaligus kepala parokiku. Kutumpahkan semua kisahku kepadanya.
"Lisa saya hanya bisa menyarankan. Bukan memutuskan. Bukalah hatimu, sanggupkah dirimu menerima tanggung jawab sebagai ibu sambung. Sanggupkah dirimu menerima Bian bukan sebagai sahabat, tapi sebagai suami." Jawabnya sabar.
"Rosa?" Tanyaku.
"Rosa sudah di surga. Tidak ada kaitan dengan kalian." Jawabnya lugas.
Malam itu aku menelpon ibu Rosa. Meminta beliau untuk menjawab tanya dalam hatiku.
"Ibu, ini Lisa. Sahabat Bian dan Rosa di Denpasar."
"Bunda Lisa?" Tanyanya.
"Iya ibu. Maaf kalau mengganggu, tapi ada yang mau saya tanyakan." Jawabku. Aku tidak kuat menahan tangis.
"Lisa, ibu tahu kenapa Lisa sampai menelpon ibu. Soal lamaran Bian dan anak anak khan? Tanyanya lagi. Aku menumpahkan airmataku, banyak.
"Ibu tahu dari Rosa tentang dirimu. Tentang dekatnya dirimu, Rosa, dan juga Bian. Ibu juga tahu, kalau ayah dan ibumu sudah meninggal." Katanya lagi. Kenapa menyangkut orangtuaku menimbulkan setitik tanya. "Maukah kau menganggap ibu sebagai ibumu?" Tanyanya lagi.
"Ibu." Aku memanggilnya lirih. Malam itu aku menemukan seorang ibu. Bukan pengganti, tapi ibu sambung. Menyambung cinta seorang anak kepada ibu, dan ibu kepada anak. Dan dari situ, aku tahu setiap tanya dalam hatiku telah menemukan jawabannya.
Epilog
Di depan altar aku dan Bian saling mengucap janji pernikahan kami. Saling menerimakan sakramen perkawinan. Dalam hati, aku juga mengucap janji pribadiku. Kepada anak anak. Bahwa aku akan menjadi bunda mereka. Menyambung cinta seorang ibu kepada anak. Di depan patung Bunda Maria, aku berlutut. Mendaraskan doa pujian sekaligus memohon pertolongan agar aku bisa menjadi seorang ibu seutuhnya bagi Agnes, Eliza dan Frans. Sebentuk tangan tersodor di depanku, menawarkan cinta dan kehangatan. Tangan Bian.
Whoaaa... Apiiik...
ReplyDelete*mewek*
*terharuuu*
Mbok diterusno lho nulise...