Thursday, March 5, 2015

Liburan

Yup, dua minggu liburan. Dari Denpasar ke Gilimanuk naik bus, lumayan dapat patas. Gak gerah karena pakai ac. Agak mahal tapi nyaman. Sambung naik kapal feri ke Ketapang. Sempat ngopi sebentar di dermaga, sekalian memori masa lalu. Masih ada juga anak koin. Kalau dulu seratus rupiah, sekarang udah gak laku. Kulemparkan beberapa koin ke arah mereka. Limaratusan. Kulihat tawa mereka. Hatiku menangis, demi koin koin itu mereka mempertaruhkan nyawa. Lepas dari dermaga, aku memilih angkot jurusan Banyuwangi kota. Ada satu tempat yang ingin aku kunjungi. Biasa, nguprek kuliner asli. Nanya sana sini, dapat informasi rujak soto terkenal. Naik becak dari terminal, aku sampai di depan sebuah warung kecil. Bersih, rapi, ramai. Berarti nggak salah informasinya. Plang besar menunjukkan beberapa menu. Ada rujak soto, pecel rawon, sego cawuk, dan sego pindang. Nanya ke mbak pelayannya, boleh gak milih separuh. Separuh rujak soto, separuh pecel rawon. Boleh katanya. 

Jepret sana sini waktu pesananku datang. Biasa, bahan buat tulisanku nantinya. Suapan pertama rujak soto bikin aku melayang. Ternyata enak, pake bingits. Pecel rawonnya mantap. Masih lapar, aku lanjut dengan sego cawuk. Nasi yang disiram kuah kelapa, dengan lauk pilihan. Aku memilih pindang ikan, telur separuh, dan dadar jagung. Kali ini full portion. DI depan meja kasir ada beberapa piring besar berisi makanan kecil lokal. Langsung sepiring tanggung wader dan udang kali goreng, tahu petis dan peyek rebon pindah ke mejaku. Masih sempat juga aku mengambil krupuk putih seplastik. Krupuk kancing katanya. Ternyata nggak salah, warung ini terkenal. Semuanya enak. Bintang tiga setengah. Bukannya pelit, tapi aku selalu memberikan penilaian ke warung sebagai tiga atau tiga setengah. Belum pernah empat. Aku dengan pendidikan yang cuma SMKK terjun sebagai food writer. Lulusan tahun sembilan delapan Sudah stw. Sudah waktunya memiliki keluarga. Apa daya, cintaku tertinggal di Malang. Tujuanku selanjutnya. 

Tiba di Malang aku langsung menuju hotel tempatku menginap. Hotel kecil, bersih dan dekat tempatku sekolah dulu. Seputaran Celaket. Ada rindu mengoyak hati. Ingat ketika SMP dulu, jajan lewat jendela kelas. Ingat juga pohon kenitu di dekat lapangan basket. Ingat juga Cungkring. Lelaki impian. Dua tahun lebih tua dariku. Dialah yang mendukungku untuk masuk SMKK ketika tahu betapa bencinya aku dengan matematika dan pelajaran eksak lainnya. Matematika itu momok buatku. Aku tidak suka angka. Tapi aku mencintai tepung, gula dan garam. SMKK dianggap pilihan anak buangan. Anak bodoh tepatnya. Tapi aku cinta dunia kuliner. Meskipun awalnya orangtuaku kalap me dengan pilihanku, mereka akhirnya menyerah. Terakhir bahkan mendukung ketika aku menjadi juara di beberapa kompetisi. Semester akhir kelas tiga, aku mengirimkan resep ke salah satu kompetisi memasak internasional. Hadiahnya beasiswa ke Singapore. Aku gagal jadi juara, tapi  aku ditawari pekerjaan sebagai asisten juru masak keliling. Promotional chef. Kerja untuk beberapa perusahaan. Mulai dari bumbu masak, panci, sampai terakhir sepuluh tahun lalu aku bekerja untuk sebuah  website khusus traveler. 

Selama bekerja sebagai promotional chef, aku juga rajin menulis di beberapa majalah. Review makanan, restaurant, bahkan sempat tulisanku tentang traveling dijadikan serial di majalah terkenal. Setelah tulisanku dimuat, aku diminta untuk bergabung di TravelMarket. Enam tahun aku bergabung di website sebelum aku memutuskan untuk berhenti. Aku independent writer sekarang. Home baseku di Bali. Di daerah pinggiran kota Denpasar, sebuah rumah kecil lengkap dengan isinya. Dengan seorang asisten rumah tangga, dan dua ekor anjing aku merasa hidupku begitu nyaman. Hingga aku lupa memikirkan pasangan hidup. Terlena oleh assignment untuk pergi mereview kuliner. Sudah banyak tempat kujelajahi, bahkan tahun kemarin aku sempat sebulan keliling Eropa. Review kuliner Indonesia di beberapa negara. Assignment yang kuterima dari kementrian pariwisata lewat TravelMarket. Biaya hidup, ongkos perjalanan dan sedikit uang saku. Lumayan bisa melihat Amsterdam, Lucerne, London, bahkan sempat dengan uang sakuku sendiri aku ke Lourdes.
Di Malang aku ingin pergi ke beberapa tempat yang sudah lama ingin aku kunjungi. Sekolah lamaku, pasar klojen, pasar tawangmangu, Batu, Sengkaling, dan beberapa tempat lainnya. Tujuan utama
adalah liburan dan ngulik makanan. Tujuan keduaku? Aku ingin pergi ke tempat Cungkring dulu
pernah membawaku. Giliran pertama, bakmi gang djangkrik. Naik angkot ke restaurant yang di daerah Blimbing. Masih tetap rasa yang dulu, gak berubah blas. Kelar yang di Blimbing, aku balik hotel. Nanya ke resepsionis, ternyata Kupang Lontong di Cipto masih. Kalau mau jalan cuma sepuluh  lima belas menit. Menyusuri Jalan Cipto diriku dipayungi oleh pohon kenari yang berjajar rapi. Kupang, lontong separuh plus heci. Minumnya es legen. Wah, serasa balik ke jaman dulu. Sempat ngobrol dengan mbak pelayan, nanya tahu campur dekat pasar klojen. Kurang tahu, jawabnya. Ya sudah, toh hari ini rencananya juga makan malam mi dukduk. Ingat Cungkring. Beberapa kali malam mingguan di sana. Murah meriah enak. Apakah aku masih bisa mengingat dia? Ketika kita sudah berubah. Mungkin dia sudah berkeluarga, punya anak anak yang pasti dia sayangi. Lengkap dengan seorang istri yang cantik.

Malam ini aku mulai mereview beberapa catatan kecilku. Mulai dari Banyuwangi, makanan yang ditawarkan di kereta api, sampai ke mi dukduk. Catatan ringan tentang kuliner atau cerita perjalanan ku tulis di blog pribadi. Sementara yang review makanan di blog lain, dengan link ke TravelMarket. Tengah malam ternyata perutku minta diisi lagi. Biasa karung beras gini, suka mangap minta tambahan. Ke resepsionis, nanya nanya. Ada bakso tengah malam. Depan hotel mangkringnya, enak sih kata si mas. Langganan tamu. Tapi pakai bab1, karena yang jual turunan Tionghua. Coba ah.
"Mas mau bakso semangkok, boleh pilih isi nggak?" Tanyaku ke masnya. Dua buah bakso, tahu isi, usus, pangsit, siomay, dan bihun. Ada tetelan plus sayur cay sim. Masih kurang. Tambah dua bakso, usus, siomay plus pangsit. Puas. 

1 comment:

  1. Lee Ann, ini bukan cerpen kan??? Itu hotel mana yang ada baksonya enak??? Rumahe ortuku kan ndek Claket...

    ReplyDelete