Saturday, March 12, 2016

Ketika Cinta Berkalung Tasbih

Aku nggak tahu musti bagaimana lagi. Selangkah lagi aku akan kalah. Aku tahu itu. Berat. Menangis tidak pernah menyelesaikan masalah. Tertawa juga tidak membuat ringan timbangan pikiran. Apalagi kasusku sungguh rumit. Nggak pernah ada lintasan pikiranku ketika aku menerima pekerjaan baruku di Alexandria membawaku menemukan lelaki itu. Cinta sejatiku. Masa kini.

Nama lengkap lelaki itu Khaled bin Muhammad Faisal. Seorang Muslim. Seorang lelaki berkebangsaan Mesir. Seseorang yang kutemukan sangat mencintaiku dan memujaku dengan mengatakan cinta seumur hidup. Aku terbuai oleh angan akan menjadi seorang ratu rumah tangga di kota tua ini. Menjalani hidupku bersama laki laki itu. Menjadi seorang istri. Selamanya.

Aku, Bernarda Amelia Sutiksno. Seorang Katolik. Lahir, besar, dan dewasa dengan selalu menenteng Rosario. Aktif di Mudika, koor, dan guru Sekolah Minggu di Katedral. Selalu hadir setiap hari di ruang Adorasi. Bahkan aku sempat menjadi konselor untuk anak pra-remaja. Selalu menganjurkan untuk mencari pasangan hidup yang seiman kepada mereka. Aku malu.

Hari ini, Khaled akan menikahi Noor Aisha. Perempuan muda. Alasannya, aku tidak bisa mengandung dan menghadirkan tangis bayi di rumah ini. Bagaimanapun aku memohon untuk menunggu. Gendang lagu irama padang pasir. Sepanjang lima menit. Mengantarkan Khaled mengucapkan ijab kabul dengan suara lantang. Aku tergugu. 

Di dalam kamarku. Aku menggenggam sebuah benda. Dua strip biru. 

No comments:

Post a Comment